Hati, cinta, dan perasaan merupakan beberapa hal yang tidak dapat dipisahkan. Setidaknya, cinta bukanlah sekedar bekal sebagai produsen tenaga kerja sebagaimana diungkapkan oleh si tua Karl Marx. Akan tetapi, cinta seringkai diuji dengan berbagi hal yang membuat seseorang merasa hidupnya kurang menyenangkan. Keindahan cinta dan kehidupan seringkali begitu mudahnya hilang tersapu gelombang persoalan. Jika kita mengalaminya, kita bisa belajar dari sebuah film Italia yang diluncurkan pada tahun 1997. Film yang disutradarai oleh Roberto Benigni (sekaligus sebagai pemeran utamanya) ini berhasil meraih Academy Award ke-71. Film ini diberi judul La Vita รจ Bella (Life is Beautiful). Dari film ini kita bisa belajar bahwa indah tidaknya kehidupan yang kita jalani tidak tergantung pada persoalan yang kita hadapi, tetapi bagaimana cara kita menghadapi persoalan hidup. Berikut ini merupakan sinopsis dari flm tersebut.
Guido Orefice adalah seorang Yahudi Italia muda yang bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran milik pamannya di kota Arrezo. Guido digambarkan sebagai pribadi yang periang, licik, menyebalkan, menyedihkan, pintar, dan kocak. Guido kemudian menikah dengan seorang gadis bernama Dora, yang direbut dari tunangannya, Roudolfo. Dora bukanlah seorang Yahudi. Guido dan Dora hidup bahagia dan dikaruniai seorang anak bernama Joshua.
Guldo kemudian mendirikan toko buku dibantu oleh Joshua kecil yang berusia sekitar 5 tahun. Sayang, kebahagiaan tak selamanya menyertai keluarga Guido. Ketika tentara Nazi Jerman menginvasi Italia, Guido dan Joshua dibawa tentara Jerman untuk dipekerjakan secara paksa tepat pada hari ulang tahun Joshua. Dora yang bukan Yahudi nekat ikut berangkat bersama kereta yang membawa suami dan anaknya. Namun, tentara Jerman membagi tawanan berdasarkan jenis kelamin sehingga mereka tidak pernah bertemu.
Guido dan Joshua akhirnya dibawa ke kamp konsentrasi Nazi. Disinilah cerita yang mengharukan dan menyentuh hati terjadi. Guido berusaha meyakinkan Joshua bahwa apa yang terjadi selama perjalanan dan dalam kamp konsentrasi hanyalah sebuah permainan semata dan barangsiapa yang berhasil mengumpulkan 1000 poin akan mendapat hadiah sebuah tank. Ia juga mengatakan bahwa setiap tangisan, keluhan ingin bertemu ibunya, dan keluhan karena lapar akan mengurangi poinnya. Selama di kamp, Guido berusaha untuk tampak gembira dan bersemangat di depan Joshua. Setiap Joshua ingin mengakhiri permainan, Guido menyakinkannya bahwa mereka sedang memimpin perolehan poin dan akan segera mendapatkan tank.
Guido berperan sangat baik di depan anaknya sampai cerita berakhir, saat tentara Amerika berhasil mengalahkan Jerman. Pada saat terjadi kekacauan akibat serangan tentara Amerika, Guido memasukkan Joshua ke dalam sebuah kotak dan melarangnya keluar sampai semua orang pergi. Saat berusaha untuk menemukan Dora, Guido tertangkap tentara Nazi dan kemudian ditembak mati. Saat akan dibawa pergi, Guido masih sempat tersenyum kepada Joshua yang mengintip dari sebuah lubang kecil di kotak persembunyiannya.
Joshua baru keluar setelah keadaan sepi sesuai pesan ayahnya. Saat tank-tank tentara sekutu datang, dengan gembira ia berteriak bahwa ia memenangkan permainan dan memperoleh hadiah tank. Dia berhasil bertemu kembali dengan ibunya, tanpa mengetahui bahwa ayahnya telah meninggal. Bertahun-tahun kemudian, ia baru menyadari bahwa pengorbanan ayahnya telah memberinya kesempatan untuk bertahan hidup.
Sebuah kisah nyata yang diangkat menjadi film ini sangat menyentuh perasaan manusia. Walaupun Dora bukan seorang Yahudi, ia mau mengikuti kerja paksa di kamp konsentrasi Nazi Jerman. Guildo rela mati demi keluarga yang sangat dicintainya (Joshua). Disini, cinta memang membutuhkan pengorbanan. Jika cinta tidak memerlukan pengorbanan dalam situasi seperti diatas, itu hanyalah sebuah nafsu yang dikendalikan belaka.
Kita bisa belajar dari situasi yang dihadapi Guido dan Joshua pada film ini. Guido berusaha menunjukkan pada Joshua bahwa kehidupan yang sedang mereka jalani tidaklah seburuk yang ia bayangkan. Pada akhirnya, Joshua berhasil melewati fase yang sangat sulit dalam hidupnya. Hal itu terjadi berkat pandangan positif terhadap kehidupan yang selalu ditekankan oleh ayahnya. Kehidupan memang tidak selalu indah. Akan tetapi, kalau kita selalu memandangnya dengan positif, kehidupan akan selalu tampak indah, bagaimana pun kondisi hidup kita. Hal itu sesuai dengan sebuah peribahasa yang mengatakan: You can’t choose how long you will life, but you can choose how you will life (Anda tidak akan bisa memilih berapa lama Anda akan hidup, tetapi Anda bisa memilih bagaimana Anda kana hidup).
No comments:
Post a Comment